Tampilkan postingan dengan label Diskusi di milis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi di milis. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 27, 2012

Kisah Pesawat MA 60 Merpati Buatan China dan Proyek Listrik 10 Ribu MW

[Opini ini pertama kali ditulis di blog pada: 27 April 2012 13:52]
[Opini ini direvisi pada: ]

Di bawah ini diskusi di milis Nasional List seputar (DugaanKorupsi) pengadaan
Pesawat Merpati #MA-60 buatan China. Prosesnya sendiri ditengarai melanggar UU
karena pembiayaannya dilakukan dengan Hutang ke Bank Ekspor&Impor China
(CEXIM Bank) dan tidak melewati persetujuan dengan DPR.

----------
Menarik melihat rangkuman berita seputar pengadaan MA-60 buatan China terkait
dengan ancaman soal pendanaan Proyek Listrik 10rb MW. 
Kisah Pesawat MA 60 Merpati Buatan China dan Proyek Listrik 10 Ribu MW
.."

Ternyata, wakil RI untuk negosiasi dengan pihak China adalah Mari Elka Pangestu 
dan Sri Mulyani.. Dan dengan liciknya MEP tunjuk Hatta Rajasa, yang saat itu 
hanya menjelaskan posisi MEP untuk melakukan lobby..

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"

http://turindo.co.id/index.php?page=2&event=view&id=703

Kisah Pesawat MA 60 Merpati Buatan China dan Proyek Listrik 10 Ribu MW

Jakarta - Tragedi pesawat Merpati buatan China, MA 60, jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, membuat ingatan lari ke tahun-tahun lalu. Pengadaan pesawat buatan Xian Aircraft Corporation itu sangat alot dan berbelit. Disebut-sebut pembelian pesawat ini berhubungan dengan pengadaan proyek listrik 10 ribu megawatt.

detikcom merangkai kisah pesawat itu berdasarkan berita-berita lampau:

Tahun 2007

Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan menambah armadanya tahun ini. Merpati akan mendatangkan 2 pesawat dari China. Hal tersebut disampaikan Manager Corporate Communication Merpati Widodo Aryanto ketika dihubungi detikFinance, Jumat (24/8/2007).

"Nanti tanggal 28 Agustus baru berangkat dari China, ya mungkin sampai di Indonesia 2 hari berikutnya," ujarnya.

Pesawat China yang dibeli Merpati merupakan pesawat Xinzhou 60 (MA-60) dengan kapasitas sekitar 60 orang. Namun Merpati akan memodifikasi pesawat sehingga kapasitasnya berkurang menjadi 58 tempat duduk.

MA-60 diproduksi oleh China Aviation Industry Shaanxi di Provinsi Shaanxi. Pesawat ini dapat terbang sampai ketinggian 6.000 meter dari permukaan laut dengan jarak penerbangan mencapai 1.600 km. Merpati menargetkan untuk mendatangkan 15 pesawat MA-60. Pesawat lainnya pesawat akan dikirim dalam beberapa tahun.

Tahun 2009

Xian Aircraft Industry Company Ltd sebagai pabrikan pesawat yang mendapat pesanan 15 unit pesawat MA60 menggugat MNA karena MNA belum juga menyelesaikan masalah pembayaran pembelian pesawat. Nilai gugatan mencapai Rp 1 truliun.

Dari 15 unit pesanan, sudah 2 unit tiba ke Indonesia sementara 13 unit lainnya masih tertunda.

Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong PT MNA untuk melawan ancaman itu. MNA mengaku tidak rela dipaksa menerima kontrak pembelian pesawat dari pabrikan China. Kontrak tersebut dinilai sangat bisa membuat Merpati bangkrut.

Hal ini disampaikan Sesmenneg BUMN sekaligus Komisaris Merpati Said Didu di sela-sela rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/2/2009).

"Merpati tidak rela dipaksa menerima deal itu dan nantinya bangkrut," katanya.

Ia meminta pemerintah untuk mempertimbangkan baik-baik bagaimana dampaknya terhadap beban Merpati di masa depan.

"Kita minta pemerintah melihat seberapa besar beban Merpati jika mengambil kontrak segitu. Harus dilihat jumlah harga dan garansinya," katanya.

Pemerintah pun menunjuk Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu untuk melakukan lobi.

"Pemerintah sudah menunjuk Mendag untuk bicara dengan China," kata Mensesneg Hatta Rajasa di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/2/2009).

Apakah Indonesia akan segera melunasi tunggakan? "Semua ini kan kesepakatan B to B (business to business), jadi kita selesaikan secara B to B pula. Ibu Mari masih membicarakannya secara bilateral," tegas Hatta lagi.

Hal senada pernah disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil yang berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik-baik.

"Kalau dituntut ya kita lawanlah. Intinya kita ingin menyelesaikan secara baik-baik. Tapi kalau kita baik tapi mereka mau nuntut, ya kita lawan," kata Sofyan pada Rabu (4/2/2009) lalu.

Ia mengatakan, saat ini Merpati sedang melakukan negosiasi mencakup soal harga, jumlah, jaminan kualitas termasuk jaminan pembelian kembali. Kementerian BUMN ingin seluruh masalah tersebut bisa diselesaikan terlebih dahulu sebelum pembelian selanjutnya.

Proyek Listrik 10 Ribu MW

Menteri ESDM saat itu, Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, pemerintah China menahan pendanaan proyek listrik 10 ribu MW tahap pertama karena masalah pembelian pesawat oleh Merpati dari pabrikan China, Xian Aircraft Industry Company Ltd.

"China menahan pencarian dana untuk 10.000 MW tahap pertama karena semula Merpati mau beli pesawat dari perusahaan China tapi ternyata dibatalkan karena harga pesawat dinilai terlalu tinggi. Makanya China menahan kucuran dana untuk pembangunan 10.000 MW pertama," katanya di sela-sela raker dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/2/2009).

Ketika dikonfirmasi apa benar pembatalan pembelian pesawat menjadi kendala kucuran dana dari China, Purnomo menjawab,"Mereka memang menggunakan itu untuk tahan aliran dana ke proyek 10.000 MW tahap pertama. Makanya kami ingin klarifiaksi itu dengan pemerintah China. Jangan sampai itu dilakukan, karena kami akan kesulitan dengan masalah Merpati ini."

Hal itu lalu dikonfirmasikan kepada Sesmenneg BUMN sekaligus Komisaris Merpati Said Didu di sela-sela rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/2/2009).

Said mengaku tidak mengetahui secara jelas hubungan rencana pembelian pesawat Merpati dengan pendanaan 10.000 MW. Menurut Said, Merpati tidak mau dipaksa pemerintah menerima kontrak tersebut.

"Saya nggak tahu hubungannya dengan 10.000 MW. Intinya kita nggak rela dipaksa pemerintah terima kontrak itu, nantinya bisa bikin bangkrut," katanya.

Namun Wapres saat itu, Jusuf Kalla, mengatakan masalah pesawat MNA tak terkait dengan proyek listrik 10 ribu MW.

"Soal Merpati sebenarnya terpisah dengan PLN, karena PLN sudah berjalan negosiasinya. Dan juga Merpati juga sudah berjalan negosiasinya, karena itu sudah kontrak yang lama," katanya usai salat Jumat di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2009)

Ia mengakui, adanya krisis membuat negosiasi jadi lebih alot. Pihak China menginginkan perubahan kontrak yang membuat bunga pinjaman untuk proyek 10.000 MW naik.

"Pemerintah tetap meminta mereka bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang baik. Merpati dapat sistem transportasi dan juga dengan pembiayaan yang lebih efisien. Kemudian, kalau PLN itu tetap jalan. Itu pedoman pemerintah," katanya.

Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani saat itu bertolak ke China pada hari ini untuk melakukan negosiasi dengan China.

"Jadi tujuan kita nanti lebih kepada bagaimana kita akan merealisir berbagai kerjasama terutama yang selama ini kurang atau belum, kurang mulus, belum seusai dengan jadwal yang kita inginkan," ujar Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa malam (17/3/2009).

Konflik pembelian pesawat Merpati dari pabrikan asal China, Xian Aircraft, yang tadinya B to B akhirnya dibawa ke level antar pemerintah atau government to government (G to G). Masalah pembelian pesawat Merpati ini sempat menganggu pendanaan 10.000 MW dari China.

"Sedang dibahas dalam level G to G," kata Menko Perekonomian Sri Mulyani usai bertemu Presiden SBY di Istana Merdeka, Selasa (24/3/2009) ketika ditanya perkembangan kasus Merpati.

MNA Tolak Pesawat MA 60

PT MNA memutuskan untuk membatalkan dan tidak akan membeli seluruh pesawat dari produsen pesawat asal China, Xian Aircraft. Menurut salah satu eksekutif Merpati, penolakan tersebut terkait dengan alasan teknikal dan komersial yang tidak menguntungkan bagi BUMN tersebut.

"Salah satunya dengan ditemukannya crack (kerusakan) pada bagian mesin beberapa waktu yang lalu," ujar sumber tersebut di Jakarta, Rabu (3/6/2009) malam.

Ia menambahkan, pihak manajemen Merpati sudah menyatakan keberatannya kepada tim privatisasi yang terdiri dari Kementerian Negara BUMN dan departemen terkait lainnya. Pihaknya juga tidak gentar jika pihak China melayangkan arbitrase terkait penolakan pembelian pesawat tersebut.

"Ya silakan saja arbitrase. Kami bisa arbitrase balik karena (China) kirim barang enggak bagus," ucapnya.

PT MNA bahkan menghentikan penerbangan pesawat MA60 buatan Xian Aircraft asal China setelah ditemukannya kerusakan di bagian rudder atau sayap belakang pesawat. Menurut Direktur Utama Merpati saat itu Bambang Bhakti, penghentian penerbangan pesawat asal China tersebut mulai awal pekan ini.
 
"Karena ditemukan crack di bagian rudder pesawat, kita putuskan untuk grounded dulu untuk sementara," katanya usai rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2009).

Ia mengatakan, penghentian penerbangan tersebut akan dilakukan sampai ada penjelasan resmi dari Xian selaku produsen pesawat tersebut. Perusahaan negara itu sudah melayangkan surat kepada pihak China dan tinggal menunggu jawaban.
 
"Tapi kita juga punya tim sendiri yang memeriksa, jadi nanti hasil pemeriksaannya bisa seimbang," katanya.
 
Ia juga mengatakan, berhentinya jalur penerbangan tersebut membuat kinerja BUMN aviasi itu tidak maksimal. "Pasti bikin kerugian, yang seharusnya terbang kan sekarang tidak," katanya.

Nego Dilanjutkan

Sempat mandeg dan buntu, akhirnya negosiasi MNA dengan Xian Aircraft dilanjutkan.

"Menko Perekonomian minta untuk segera diselesaikan, jadi keputusannya untuk terus melanjutkan negosiasi dengan China, tidak ada opsi batal," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafi'i Djamal saat ditemui usai rakor di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jumat (31/7/2009) malam.

Jusman mengatakan, negosiasi dengan pemerintah China akan dilakukan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Negosiasi itu kata dia, akan mencakup soal jumlah pesanan pesawat dan harga.

"Negosiasi dilanjutkan, yang akan dilakukan oleh Mendag dengan China," ucapnya.

"Mereka minta proses pergantian spare part dari Xian, yang crack, yang terjadi pada satu pesawat. Sekarang ini sedang uji terbang lagi, semuanya yang sewa," ucapnya.

Menurutnya, penggantian dan pemasangan suku cadang yang dilakukan oleh China terhadap dua pesawat tersebut tidak dikenai biaya. "Mereka akan mengganti. Seperti ada service gratis, akan mengganti spare part," jelas Jusman.

Akhirnya, 15 pesawat MA 60 pabrikan Xian jadi didatangkan. PT MNA berencana mendatangkan sekitar 22 pesawat hingga tahun 2010 untuk menambah armada perseroan. Sebanyak 15 pesawat dengan jenis MA60 didatangkan dari Xian Aircraft, sedangkan 7 sisanya berupa ATR 72 dari Perancis.

"Kita ada pesawat ATR 72 dari Perancis dan MA 60 dituntaskan kalau disetujui RUPS," kata Direktur Utama Merpati Bambang Bhakti usai menghadiri serah terima jabatan Menteri BUMN di kantor Kementerian Negara BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis(22/10/2009).

Ia mengatakan, hingga saat ini, dengan adanya tambahan armada tersebut, maka diharapkan BUMN aviasi itu bisa melayani rute di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.

"Kalau tahun depan sudah ada tambahan 22 propeller , kita akan jadi king of propeller di Indonesia," ujarnya.

Tahun 2011

PT MNA siap menanti 6 armada MA-60 baru dari Xian Aircraft, China di tahun ini. Perseroan berharap Armada baru itu bisa menghasilkan laba operasi Rp 42 miliar.

"Tahun ini akan datang lagi 6 armada dari Xian. Armada itu akan datang di bulan Maret, April, Mei. Setiap bulan datang dua," kata Direktur Utama Merpati Jhony Sardjono Tjitrokusumo kepada detikFinance, Kamis (10/2/2011).

Ia mengatakan, pesawat yang dikirim dari China ini sudah memenuhi standar dan tidak akan bermasalah seperti pesawat yang dikirim sebelumnya. Pasalnya, Jhony yang mantan pilot ini sudah mencoba sendiri pesawat tersebut.

"Saya sendiri ikut waktu mereka melakukan tes penerbangannya, dan itu tesnya pesawat propeller paling aman yang pernah saya naik," imbuhnya.

sumber: detik.com


Pada 14 Mei 2011 10:51, Hinu <hsayono@...> menulis:
 

Ketaatan pada prosedur TIDAK menjamin bahwa substansi persyaratan terpenuhi dan norma kejujuran terpenuhi. 


  
--- In nasional-list@yahoogroups.com, Sandy Dwiyono wrote:
>
http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2011/05/12/6799.html

> Kamis, 12 Mei 2011, 19:10:52 WIB

> *Menteri BUMN
> Proses Pembelian Pesawat MA-60 Sesuai Prosedur*

> *Jakarta*: Proses pembelian pesawat MA-60 buatan RRT yang digunakan Merpati
> Airlines telah berlangsung sejak tahun 2002 dalam enam tahap. Dua unit sudah
> digunakan pada 2009 lalu. Semua tahap dalam proses ini sudah melalui
> mekanisme dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

> Menteri BUMN Mustafa Abubakar menjelaskan hal ini dalam keterangan pers di
> Kantor Presiden, Kamis (12/5) petang, usai sidang kabinet.

> Enam tahap proses pembelian itu adalah, pertama, pengadaan. Kedua
> pematangan, ketiga adalah penyerahan dimana dua pesawat perdana dan
> pengunaannya telah dilakukan pada tahun 2007-2009.

> "Tahap keempat adalah evaluasi harga dan perubahan kontrak pada tahun
> 2005-2006. Kelima adalah re-negosiasi yang terjadi pada tahun 2008 sampai
> 2010. Yang terakhir adalah tahap pembelian," Mustafa Abubakar menjelaskan.

> Menurut Mustafa, proses dan prosedur yang telah dilalui sudah sebagaimana
> mestinya. "Semua sesuai dengan mekanisme, ketentuan, dan peundangan-undangan
> yang berlaku. Kalaupun sekarang in terdapat sinyalemen ini, sinyalemen itu,
> itu di luar kemampuan saya," kata Mustafa. (dit)

Senin, November 30, 2009

Taufik Kiemas Belum Tanda Tangan Formulir Angket Century

Dari: Irwan Kurniawan
Tanggal: 30 November 2009 20:45
Subjek: Fwd: Taufik Kiemas Belum Tanda Tangan Formulir Angket Century
Ke: pan@yahoogroups.com, Caleg_PAN <caleg_pan@yahoogroups.com>, Suararakyat_PAN <suararakyat_pan@yahoogroups.com>

Quote:
"..
Menurutnya, ada empat kriteria dasar seorang anggota Pansus Bank Century, yaitu tidak bisa dibeli/dibayar, tidak bisa ditakut-takuti/ditekan, tidak bisa dibodohi, dan memiliki rasa malu.
Sementara itu, mantan Ketua MPR Amien Rais menambahkan satu syarat lagi, tidak bisa
diiming-imingi.

.."


Mengapa banyak menggunakan kata tidak?
Mungkin perlu ditambahkan: teguh/konsisten membela kebenaran..


tidak takut, gunakan saja kata berani
tidak bisa dibodohi, gunakan saja kata cerdas
tidak bisa dibayar/dibeli, gunakan saja kata kuat atau apalah..


jadi sikap di atas (teguh/konsisten) dapat menggantikan yang tidak" itu tadi..

CMIIW..


--
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com

Pada 30 November 2009 20:29, youngman2000 <crv118@yahoo.com> menulis:

Gimana kakek? nggak takut ketinggalan kereta? Yang begini sebut dirinya tokoh kaum Marhaenis? Malu malu'in! Udah, masuk PD sono!
Dasar kakek doyan duit...

Taufik Kiemas Belum Tanda Tangan Formulir Angket Century


Senin, 30 November 2009 15:27 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Hindra Liu

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua MPR RI Taufik Kiemas ternyata belum menandatangani formulir dukungan usulan hak angket atas dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun.

Sementara itu, Ketua DPD RI Irman Gusman telah memberikan dukungannya. Begitu pula dengan Ketua DPR RI Marzuki Alie yang disebut-sebut telah menandatangani formulir dukungan.

"Pak TK (Taufik Kiemas) saya yakin akan ikut. Beliau itu nanti terakhir-terakhir," ujar inisiator hak angket, Maruarar Sirait, ketika bertemu dengan Wakil Ketua DPR Anis Matta guna memberikan 357 tanda tangan legislator yang mendukung usulan hak angket, Senin (30/11) di Gedung DPR RI, Jakarta.

Menurut Anis, nama-nama anggota Pansus hak angket akan diumumkan pada hari Jumat mendatang ketika Rapat Paripurna akhir DPR RI. Nama-nama tersebut diharapkan telah ditentukan sebelum hari Rabu.

Seusai diumumkan pada Jumat esok, para anggota dapat langsung bekerja dan memilih ketua pansus. Maruarar mengatakan, nama-nama yang diajukan masing-masing fraksi menunjukkan komitmen mereka dalam mengungkap kasus Bank Century.

Menurutnya, ada empat kriteria dasar seorang anggota Pansus Bank Century, yaitu tidak bisa dibeli/dibayar, tidak bisa ditakut-takuti/ditekan, tidak bisa dibodohi, dan memiliki rasa malu. Sementara itu, mantan Ketua MPR Amien Rais menambahkan satu syarat lagi, tidak bisa diiming-imingi.


Rabu, Juli 09, 2008

Kita perlu extra hati-hati dalam menyikapi suatu info - Was: Re: Gunung Es Korupsi di Parlemen

Quote:
".
Namun, akhir akhir ini, timbul pemakaian kata "jamaah" dalam konteks
yang agak seram, "Jemaah Islamyah" misalnya dalam konteks tersangka
teroris ditangkapi oleh Densus 88.
.."

Bang Farid maaf saya pinjam postingan anda untuk mereply postingan dari
Eyang Danarndono.. Intinya, untuk persoalan terorisme, kata jamaah, kita
juga musti extra hati".. jangan sampai hanya termakan penyebaran info
dari satu pihak saja.. yang belum tentu cover both/all side.. :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Farid Gaban <faridgaban@yahoo.com>
Tanggal: 9 Juli 2008 10:56
Subjek: Jemaah Islamiyah, FPI dan Fakhrudin Halim

Teman-teman,

Di tengah perdebatan Milis Jurnalisme soal kebrutalan FPI di Monas
beberapa waktu lalu, Sdr. Fakhrudin Halim mengirim posting lama saya dalam kaitan berita-berita terorisme Jemaah Islamiyah.

Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi sejauh bisa saya tafsirkan, posting Fakhruddin itu mengandung pertanyaan seperti ini:

Mengapa saya, yang begitu gigih mempertanyakan kinerja polisi dalam kasus Jemaah Islamiyah, bisa menerima begitu saja fakta kekerasan yang dilakukan FPI di Monas?

Mengapa saya bersikap berbeda dalam kasus Jemaah Islamiyah dan dalam kasus FPI"

Hari-hari ini isu teror Jemaah Islamiyah kembali marak di media kita menyusul "temuan" bom di Palembang oleh Densus 88 beberapa waktu lalu.

Sehingga ada baiknya kita lihat kembali perbandingan antara dua kasus ini serta bagaimana saya sebagai wartawan dan seorang Muslim memandang masalah tersebut.

Pertama-tama, saya pribadi tidak setuju pandangan keislaman dan watak gerakan FPI maupun Jemaah Islamiyah (jika ada). Bagi saya, mereka bukan pejuang Islam.

Luthfi Assyaukanie dari Jaringan Islam Liberal keliru besar ketika dia menulis "Islam benar dan Islam Salah" seraya mengkritik orang seperti saya yang disebutnya sebagai "pembela teroris". Khususnya dalam kasus penangkapan Abu Dujana beberapa waktu lalu.

Ironis bahwa orang yang mengaku liberal seperti Luthfi memakai dalil agama untuk mengajak kita percaya hanya pada versi polisi tentang sebuah kejahatan, yang secara tak langsung memberikan cek kosong pada polisi untuk berbuat semau-maunya.

Saya tidak membela dan tidak memberi pembenaran kepada kekerasan yang dilakukan Jemaah Islamiyah (jika ada). Saya hanya mempertanyakan kinerja polisi, dan mengkritik media yang cenderung hanya mengutip sumber polisi.

[Saya bisa memahami bentuk dan alasan pemakaian kekerasan oleh Hamas di Palestina atau Hizbullah di Lebanon; tapi tidak Jemaah Islamiyah di Indonesia ketika iklim politik pasca-reformasi justru memberi peluang orang Islam untuk menyuarakan aspirasinya secara terbuka. Apalagi kekerasan ala FPI belakangan ini.]

Kata "jika ada Jemaah Islamiyah" perlu ditekankan karena berbeda dengan FPI yang terang-terangan mengakui watak kekerasannya, struktur organisasi dan pengurus Jemaah Islamiyah tidak pernah jelas terungkap sejauh ini. Sebagian besar informasi yang kita terima tentang organisasi ini berasal dari polisi, bukan dari tokoh-tokohnya sendiri.

Saya tetap punya pandangan yang sama dalam kasus "temuan bom" di Palembang yang diklaim polisi sebagai milik jaringan Jemaah Islamiyah.
Banyak media, menurut saya, tetap belum berubah dari pola lama yang cenderung membebek pada apa kata polisi.

Kekerasan Jemaah Islamiyah (jika ada) memang layak dikutuk. "Terorisme Jemaah Islamiyah" telah merugikan negeri kita dan kaum Muslim secara berlapis-lapis: korban nyawa, korban luka, penangkapan serampangan terhadap tersangka teroris, beban kesulitan ekonomi negara, serta citra Indonesia dan Islam yang terpuruk habis.

Tapi, sejauh bisa saya telusuri dalam kasus Jemaah Islamiyah, ada banyak indikasi yang membuat kita layak meragukan (reasonable doubt) klaim polisi. Kita bahkan layak untuk mencurigai skenario "war on terror" yang dimulai di Amerika.

Sebagian dari kita mungkin ada yang melihat film dokumenter bikinan BBC pada 2005: "The Power of Nightmares: The Rise of the Politics of Fear". Dalam film berdurasi tiga jam itu, Adam Curtis menyajikan sejumlah bukti bahwa apa yang kita terima sebagai fenomena terorisme internasional adalah "fantasi yang dilebih-lebihkan dan diselewengkan oleh para politisi" untuk membenarkan tindakan politik mereka.

"It is a dark illusion that has spread unquestioned through
governments around the world, the security services and the
international media."

Isu "war on terror" memiliki dampak sangat merugikan bagi Islam dan kaum Muslim. Isu itu membuat citra Islam nyaris identik dengan kekerasan. Itu sebabnya, media/wartawan semestinya berhati-hati ketika meliput kasus ini. Kaum Muslim, di sisi lain, dituntut untuk terus-menerus menunjukkan, baik melalui kata maupun perbuatan, bahwa Islam adalah agama yang santun dan damai.

Kekerasan FPI di Ancol memiliki aspek yang sama sekali berbeda. Dari Rizieq Shihab hingga Munarman gegap-gempita dan terang-terangan memberikan pembenaran terhadap kekerasan yang dilakukannya. Kekerasan atas nama Islam.

Sebagai wartawan, saya tidak memiliki keraguan sama sekali atas fakta bahwa FPI telah melakukan kekerasan yang memalukan di Monas. Kekerasan ini tidak hanya diklaim oleh polisi (berbeda dari kasus Jemaah Islamiyah), tapi oleh tokoh-tokohnya sendiri lewat wawancara televisi yang demikian terbuka dan gamblang.

Sebagai muslim, saya mengutuk kekerasan itu, yang mempersulit kaum Muslim untuk memperbaiki citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil
alamin.

salam,
fgaban



Pada 9 Juli 2008 09:37, RM Danardono HADINOTO <rm_danardono@yahoo.de> menulis:

--- In nasional-list@yahoogroups.com, IrwanK <irwank2k6@...> wrote:
>
> Saya kira penggunaan kata berjamaah di sini (ditempel dengan kata
> korupsi) harus dikoreksi dan sebaiknya digantikan dengan kata lain,
> misalnya: bersama-sama atau bergerombol. Karena kata berjamaah
> sendiri adalah istilah dari Islam dengan makna positif.. penggunaan
> dalam konteks korupsi berkonotasi lain yang buruk..
disengaja/tidak..
>
> Selebihnya saya setuju" saja soal daftar/anti politisi busuk.. agar
rakyat/
> publik dapat memilih yang benar" membela kepentingan publik luas. :-
)
>
> Mudah"an media massa dan kita semua dapat segera menghentikan
> penempelan kata berjamaah dengan kata korupsi atau kejahatan
> lainnya..
>
> CMIIW..
>
> Wassalam,
>
> Irwan.K
> Jakarta, Indonesia
> http://irwank.blogspot.com
>

**** Mungkin, pada dasarnya, kata "jamaah" berkonotasi positif. Juga
umat Kristen menggunakan kata "jemaat" sebagai terjemahan
istilah "kongregasi". Kumpulan manusia seiman. Kumpulan manusia yang menjalankan ibadat. Misalnya Jemaat Advent. Jemaah Ahmadyah. Jemaah Ismailyah, dsb. Atau simply kumpulan orang dengan tujuan tertentu (yang terkait agama): jemaah haji.

Namun, akhir akhir ini, timbul pemakaian kata "jamaah" dalam konteks yang agak seram, "Jemaah Islamyah" misalnya dalam konteks tersangka teroris ditangkapi oleh Densus 88.

Namun, anda benar, bahwa sesungguhnya, suatu istilah yang bermakna baik, jangan dikotori ya dibebani dengan ulah, yang menggiring pendengar ke konnoptasi yang buruk.

DI/TII alias Darul Islam, gerombolan bersenjata yang mengacau
sepanjang tahun 50an, memberi konnotasi seram pada kata "Darul Islam" yang seharusnya bermakna positif.

Rezim Hitler juga memberikan konnotasi buruk pada istilah "nationalisme" yang di Eropa pasca PD II dirasakan sebagai "rasa egoisme kebangsaaan, yang merasa lebih unggul dari bangsa lain". Padahal, makna asli nasionalisme adalah simply "kesadaran berbangsa".

Salam linguistik

Danardono